
Akses internet saat itu juga masih sebatas laptop maupun PC. Hp masih berkeypad dan cukup sebagai sarana berkirim sms atau telepon. Oleh karena itu, akses internet utamanya untuk ngeblog adalah sesuatu yang istimewa. Terlebih ketika untuk kebutuhan informasi, orang-orang biasanya mengakses internet kemudian menuju sebuah situs atau blog seseorang. Otomatis, blog menjadi cukup bermanfaat bagi manusia ketika itu.
Seiring berjalannya waktu, internet semakin berkembang. Begitu pula dengan akses internet dan sarana aksesnya. Google semakin jaya dengan berbagai fitur yang ditawarkan. Salah satunya adalah Youtube. Entah kapan fenomena ini muncul. Namun, Youtube kian menjadi sarana yang cukup informatif dan efektif selain blog untuk memberi tahu sesuatu. Youtube bisa dikatakan seperti televisi. Banyak sekali konten yang bisa kita tonton dari Youtube. Tergantung kebutuhan masing-masing. Ketika mendengar pendapatan iklan di Youtube lumayan menggiurkan, banyak orang, baik orang biasa, artis bahkan pejabat pemerintah berbondong-bondong ingin mencoba Youtube. Dimulai dari membuat akun dan channel di Youtube, lalu menyajikan konten yang menarik. Entah itu hiburan, DIY, berita, dan lain-lain. Akses internet pun kini semakin mudahnya dengan smartphone dan kuota internet melimpah ataupun wifi gratis. Internet zaman sekarang bisa diakses dengan mudahnya dalam genggaman.
Lambat laun, eksistensi tulisan di blog mulai berkurang. Mungkin dikarenakan manusia era sekarang memiliki minat baca rendah. Atau entahlah. Barangkali masih firasat sepihak saya yang bertanya-tanya blog masih banyak peminatnya atau tidak.
Bertahan di blog
Menulis adalah hobi saya sejak dulu. Dibanding merekam diri sendiri, saya lebih senang berbagi melalui semburat tulisan. Tulisan memiliki kekuatan tersendiri bagi saya. Dimana orang-orang yang membacanya harus turut berpikir untuk memahami suatu tulisan. Saya juga bukan pribadi yang ekspresif untuk bisa membuat channel Youtube. Berbagi lewat tulisan lebih terasa damai dibandingkan harus mengedit ulang rekaman video yang sudah kita buat. Barangkali dibutuhkan penampilan yang menarik dan wajah yang manis untuk menjadi Youtuber. Sedangkan untuk menjadi blogger tidak diperlukan syarat khusus. Mungkin hanya sebatas keterampilan menulis saja
Keunggulan dan kekurangan antara blog dan vlog

Credit picture from here.
Menurut pandangan saya, tidak mudah untuk membuat satu konten video. Dibutuhkan ide atau konsep apa saja yang akan terjadi di depan kamera. Entah itu aksi spontan atau yang terencana. Alur video juga perlu diperhatikan. Bagaimana isi video apakah menarik atau tidak. Serta proses editing video yang tak jarang memakan waktu karena harus cut sana sini, penambahan backsound dan tulisan, dan lain-lain. Tidak mudah memang. Mengingat jika ingin membagikan suatu hal, ia harus benar-benar merekam suatu kejadian saat itu juga. Misalnya seorang traveler. Jika ingin membagikan setiap perjalanannya dalan bentuk video, ia harus merekam setiap momen yang ia lakukan sepanjang perjalanan. Entah itu makan, jalan-jalan, berbincang dengan orang asing, atau bahkan ketika naik pesawat sekalipun. Segalanya harus direkam kala momen itu berlangsung. Tidak bisa ditunda. Karena momen tidak bisa terulang dua kali.
Keunggulan seorang Youtuber adalah dalam penyajian konten dan penonton. Rekaman video yang sudah dibuat dan diedit dengan susah payah itu bisa langsung dinikmati penonton. Walau tak ayal video itu hanya berdurasi 10-15 menit. Penonton cukup melihat apa saja yang terlihat dalam video tanpa berpikir panjang.
Untuk membuat tulisan, blogger bisa melakukannya kapan pun. Bahkan ketika suatu momen sudah terjadi selama apapun, blogger masih mampu untuk menuliskan kisahnya kembali. Cukup dilengkapi oleh foto-foto sebagai dokumentasi pelengkap beberapa momen penting. Tulisan bisa selesai diiringi dengan ide-ide yang biasanya tertuang begitu saja alias spontan. Tinggal bagaimana bentuk tulisan memiliki bahasa yang apik sehingga rangkaiannya mudah dibaca oleh orang lain.

Blog dan vlog itu semacam novel dan film, memiliki dua perbedaan mendasar. Jika tulisan bisa memberikan penggambaran detail dan pembaca dituntut untuk berpikir guna mengimajinasikan penjelasan tulisan di otak, maka video menampilkan penggambaran yang jelas dan nyata tanpa perlu kerjasama otak untuk menggambarnya di otak. Sayang, di video kemungkinan kurang detail dengan apa saja yang ditampilkan.
Ini hanya sekadar opini pribadi saya. Barangkali ada tambahan?